DOSA PERTAMA

maaf, kalau gambar tidak sesuai deskripsi cerita. gambar ini hanya ilustrasi.

maaf, kalau gambar tidak sesuai deskripsi cerita. gambar ini hanya ilustrasi.

Wika terlihat sedang termangu saat Eliene masuk kelas. Jam istirahat hampir berakhir sehingga gadis berponi bergelombang itu masuk kembali ke kelas.

“Apa itu, Wika?” tanya Eilene.

“Eh, Lin” Wika tersadar. “Ini formulir ekskul”. Jawab Wika.

“Kamu mau ikut ekskul apa?”

“Sebenarnya sih mau ikut PMR tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Kamu kan sudah ikut tata buku, koperasi siswa, Lin. Apa aku ikut kamu aja?”

“Jalani hidup yang kamu cita-cita kan sendiri, Wik! Jangan  menjalani hidup orang lain! Kamu yang menjalani hidup dan pilihanmu. Susah dan senangnya kamu yang merasakan.”

“Oh gitu ya?”

“Tenang aja! Aku tetap akan selalu mendukungmu kok, walau kita tidak di ekskul yang sama. Kita tetap berteman.”

“Makasih, Eliiiinn…..”

Pembicaraan mereka terhenti karena guru sudah masuk kelas. Mereka tak ingin pelajaran terabaikan karena pembicaraan pribadi. Jelas pelajaran lebih penting dari apapun saat ini. Segera mereka mengeluarkan buku pelajaran mereka.

Sehabis pelajaran selesai Eliene tidak langsung memasukkan bukunya. Ia menoleh pada kita.

“Sekarang ceritakan kenapa kamu ingin ikut PMR.” Kata Eilene.

“Aku ingin ikut PMR karena aku ingin jadi perawat. Perawat itu keren, mereka serba bisa. Mereka bisa melakukan apa saja. Mereka selalu tenang di saat darurat. Mereka juga selalu menolong orang lain yang membutuhkan.”

“Baguslah! Jadi sekarang kamu punya alasan dan motivasi yang kuat. Kamu bisa isi formulir itu sekarang”

“Maksud kamu?”

“Kita daftar sekarang.”

“Eh? Eeeee….” Wika terkejut.

“Bukankah itu bagus?”

“Iya sih. Tapi masuk sekretariat, di mana isinya kakak-kakak kelas cowok kayaknya serem.”

“Aku temenin!” ujar Eilene.

“Kamu mau?”

Eilene menganggukan kepala.

“Oke.” Wika segera membereskan buku-buku, pulpen, peralatan tulis dan buku-bukunya ke dalam tas. Setelah itu keduanya keluar kelas.

Keduanya berjalan menuju deretan gedung yang letaknya di paling selatan. Di sana semua ruang ekskul dikumpulkan. ada ekskul Paskibraka, Sepak Bola, Basket, Voli, PMR, Pramuka, Pembukuan / Koperasi, Tata Boga, Tata Busana, KIR, Seni Rupa, Seni Musik, Seni Teater / Drama dan lain-lain. Ada banyak sekali ekskul di sekolah ini.

Wika dan Eilene naik menuju lantai dua. Tadi di lantai satu bertempat peta ruang ekskul beserta lokasinya, lantai dan ruangannya. Setelah tahu tempatnya mereka menuju ruang sekretariat yang dituju lantai 2 ruang C.

“Ayo kamu ketuk pintunya!” kata Eilene

“Aku takut”

“Kamu yang juara kelas andalan Bu Kurnia masak takut.”

“Tapi ini beda.”

“Kita sudah sampai di sini masak mundur?” tanya Eilene

Wika jadi maju mundur. Pikirannya saling berkontra. Satu sisi harus maju, di sisi lain ingin mundur dan lari saja. Sebab rasanya ini bukan tempatnya. Kita nggak boleh berada disini, kita harus segera pergi dari sini.

Melihat Wika tak bergerak Eilene memutuskan mengambil inisiatif. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Tok! Tok! Tok!”

“Ya”.

Seorang lelaki keluar ruangan. Dia lelaki tinggi, tampan dengan rambut belah kiri. Dia menengok sekeliling. Kakak kelas itu menemukan dua cewek didepan pintu. Satu cewek berambut dikuncir setengah sedang membelakanginya. Satu lagi berambut panjang bergelombang, berponi tersenyum kepadanya.

“Selamat siang,kak. Saya mengantar teman saya. Dia mau daftar PMR.” Sapa Eilene.

Kakak kelas itu menoleh pada Wika.

“Adik siapa namanya?” tanya kakak kelas itu.

Wika masih belum sadar.

“Wika.” Eilene memanggil Wika.

Wika menoleh. Dia melihat Eilene, lalu melihat seorang kakak kelas berdiri di sebelah Eilene. Cewek itu terpana. Seorang pangeran sedang berdiri di depannya. Tak mungkin! Ini pasti Cuma mimpi!

“Dik!” panggil kakak kelas itu lagi.

Wika tersadar dari lamunannya.

“Eh iya kak.” Jawab Wika.

“Adik apa benar mau daftar PMR?” tanya kakak kelas itu.

Wika menoleh pada Eilene. Eilene menganggukkan kepala. Wika kembali menoleh pada kakak kelasnya.

“Iya kak.”

“Baiklah, mari masuk. Kita urus pendaftarannya.”

“Ya, kak.”

Kakak kelas masuk ruangan dengan diikuti oleh Wika. Waktu Wika melihat Eilene, sahabatnya itu tetap di luar.

“Jadi adik silakan isi formulir dulu ya?” kata kaka kelasnya.

“Ya, kak.”

Wika mengisi nama, kelas dan nomor absen. Setelah itu tempat tanggal lahir, alamat dan lain-lain. Setelah itu tanda tangan.

“Selesai.” Kata kakak kelas begitu Wika selesai menggoreskan tanda tangannya. Wika menyerahkan formulir itu. Kakak kelas itu menerimanya.

“Kita latihan setiap hari kamis pukul 03.30 di lapangan sekolah. Kamu hadir ya di sana?” kata kakak kelas memberi tahu.

“Ya, kak.”

“Jangan lupa! Pakai kaos olahraga warna putih dengan celana panjang training.”

“Ya, kak.” Wika merasa ada yang aneh, tapi ia terus saja.

“Sekarang kamu boleh pulang.”

“Makasih kak. Permisi.” Wika bangun dari kursi lekas keluar ruangan. Di sana Eilene masih menunggu di selusur balkon.

“Eilene! Aku diterima! Makasih ya? Kamu masih nugguin aku.” Ujar Wika.

“Syukurlah! Mari pulang bersama.”

Mereka berjalan bersama menuruni tangga menuju area parkir. Setelah itu mereka berpisah karena arah rumah yang berbeda.

Hari dan waktu yang dijanjikan. Wika datang dengan naik sepeda. Inginnya sih naik bus, tapi bus hanya lewat pada jam berangkat dan pulang sekolah. Selain itu gak ada. Kalau ada harus bayar. Ibunya bilang, naik sepeda biar sehat. Padahal bisa bau keringat nanti.

Wika masuk gerbang sekolah dengan menuntun sepedanya. Sambil menuntun dia melihat sekeliling. Mencari anak yang kira-kira akan ikut PMR juga. Beberapa anak terlihat sedang ngobrol dengan pakaian yang sejenis dengannya. Wika berniat bergabung kesana setelah parkit nanti.

Wika parkir di belakang kelasnya. Setelah itu dia kembali ke depan menuju tempat anak – anak tadi. Saat sudah dekat terdengar peluit panjang. Anak-anak itu mendongak mencari asal suara. Begitu juga Wika. Anak-anak itu serentak bergerak menuju pusat suara. Wika ikut-ikut di belakang mereka.

Pusat suara itu adalah seorang kakak kelas perempuan berkaos olahraga berwarna biru bertopi biru. Kakak kelas perempuan itu berdiri di tengah lapangan upacara. Anak-anak di depan Wika segera berbaris. Mereka merentangkan kedua tangan kanan kiri. Setelah itu hadap kiri merentangkan tangan.

“Semua berhitung!” instruksi kakak kelas perempuan itu.

Semua berhitung sambil melakukan pemanasan olahraga. Ada yang menggerakkan kepala kiri kanan, atas bawah, putar kiri, putar ke kanan. Lalu tangan di depan dada, tangan ke atas ke bawah, tangan membentuk S.

“Hah? Kegiatan ini nggak salah ya? katanya PMR, tapi kok olahraga? Kayaknya ini ekskul olahraga deh?” batin Wika keheranan.

Dia melihat sekeliling, tapi gak ada yang dia kenal. Dia mencari sosok kakak kelas kemarin tapi gak kelihatan juga. Jadi gak tahu ini bener-bener ekskul yang dia ikuti atau bukan. Tapi anak-anak ekskul lain berpakaian olahraga juga. Anak-anak baru belum dapat seragam sekolah.

Keraguan Wika langsung sirna saat melihat kaos yang dikenakan kakak kelas perempuan itu. Kakak kelas perempuan itu mengenakan kaos biru lengan panjang dan celana panjang training biru gelap. Di dada kanannya ada saku dan saku itu bergambar lambang PMR; Palang Merah dan Bunga Melati warna putih bergaris tepi warna merah lima kelopak. Wika pernah melihatnya waktu perkenalan ekskul dalam program PPS.

“Ini beneran PMR. Tidak…! Kenapa ada olahraganya?”

Wika jadi teringat masa lalunya. Waktu SD dia mendapat nilai buruk dalam pelajaran olahraga. Dia kalah lari, jatuh dalam keseimbangan, mudah lelah dan tak bisa menangkap atau menangkis bola.

Benar saja. Setelah pemanasan semua anak disuruh lari menyeberangi lapangan bolak – balik.

“Semua lari!” instruksi kakak kelas perempuan itu.

Semua anak kontan berlari sekencang-kencangnya. Anak laki-laki berlari paling cepat di depan. Wika yang terbayang masa lalunya melihat dunia dalam gerak lambat. Semua orang jauh di depannya, semakin jauh meninggalkannya. Seakan sudah tau apa yang akan terjadi, ia bergerak makin lambat.

Hasilnya sudah jelas. Semua anak selesai duluan di depan sedangkan baru selesai. Ia pun terengah – engah, seakan – akan napasnya akan habis sebentar lagi. Ia belum banyak berkeringat tapi mentalnya pudar. Wajahnya pucat.

“Sekarang semua kembali ke kelas.” Perintah kakak kelas perempuan itu.

Wika bersama anak – anak lain berjalan menuju kelas yang ditunjuk. Dalam perjalanan sesaat Wika melihat kakak kelas laki-laki yang kemarin.

“Kakak itu ….. tadi dia melihatku nggak ya?” batin Wika.

Mereka semua masuk kelas. Setelah semua duduk di bangku masing – masing, kakak kelas perempuan yang jadi instruktur tadi berbicara di depan kelas.

“Hari ini kita mendapatkan anggota baru. Namanya Wika Nurviana. Yang namanya Wika Nurviana maju!” perintah Instruktur itu.

“Eh kok disaat begini sih?” batin Wika terkejut. Semua anak menoleh padanya karena cuma dia yang baru datang hari ini. Wika jadi salah tingkah dilihat begitu.

Wika terpaksa berdiri dan maju ke depan kelas.

“Perkenalkan diri kamu!” perintah instruktur.

“Nama saya Wika Nurviana, saya dari kelas 7-A. Nomor absen saya 32. Salam kenal.” Kata Wika.

Seorang cewek nyeletuk, “Kak perkenalannya beda sama yang di kelas?”

Wika menoleh ke asal suara. Nina? Teman sekelasnya ternyata ada di sini juga. Biarpun jarang ngobrol, tapi Wika ingat nama dan wajah teman – teman sekelasnya.

“Eh, nggak apa-apa.” Wika malu berat dibuatnya.

“Ya udah, kamu boleh duduk”

“Makasih.”

Wika rasanya ingin cepat – cepat angkat kaki dari sini, pergi ke ujung dunia dan menenggelamkan dirinya ke dalam padang pasir. Memalukan!

Kaka instruktur itu kemudian menerangkan materi tentang lambang PMR.

 

Keesokan paginya, Wika sudah ditunggu Eilene di pintu kelas saat baru tiba.

“Pagi Wika! Gimana PMR nya kemarin?” tanya Eilene.

“Kayaknya sebaiknya aku nggak ikut aja deh.” Jawab Wika

“Loh kok gitu?”

Wika mau menjawab, tapi sebuah suara langsung menerobos suaranya.

“Halo Wika? Udah sembuh? Kamu kemarin sakit ya? Banyak minum obat ya?” Nina menyapa Wika secepat kilat kemudian berlalu.

“Kenapa Nina itu?” tanya Eilene. Segera ia menemukan jawabannya.

“Kamu kemarin bertemu Nina? Nina ternyata ikut PMR juga?”

“Ya begitulah.”

“Kamu kenapa? Ayo ceritakanlah!” pinta Eilene.

Pada sahabatnya Wika menceritakan masalahnya.

“Maaf ya? Aku nggak tahu kejadiannya bakal seperti itu” kata Eilene

“Ini bukan salahmu kok. Ini memang salahku.” Bantah Wika.

“Tapi kalo aku gak memaksa, kamu nggak bakalan mengalami kayak gini.” Ujar Eilene.

“Ini memang pilihanku kok. Aku yang memilih ini.”

Keduanya terdiam cukup lama. Guru kelas melangkah menuju mereka pertanda sudah waktunya masuk kelas. Pelajaran akan dimulai.

“Jadi gimana?” tanya Eilene setelah pelajaran berakhir.

“Aku nggak tau.”

“Sorry ya? Aku tinggal dulu , aku dapat giliran jaga koperasi.” Eilene berpamitan.

“Oke.” Sahut Wika.

Sekarang waktunya sendiri. Wika mendesah. Ia berpikir keluar saja. Mungkin di luar ia akan menemukan jawabannya.

Pilihan pertama ke kantin. Sambil memakan roti goreng, Wika mulai melamun memikirkan langkah ke depannya. Sekarang mau kemana? Terus di PMR atau berhenti? Terus didalam atau keluar? Mau mengikuti cita – citanya atau menyerah? Sebenarnya mau terus maju, tapi halangannya terlalu besar. Malunya itu, lo!

Ia sudah gagal di kesempatan pertama. Padahal kesempatan pertama adalah kesempatan penentu. Kesempatan pertama pembentuk kesan pertama dan kesan pertama itu pilar yang membangun kesempatan berikutnya.

Ia sudah sukses membangun imej positif di kelas, tapi sekarang hancur di ekskul. Apalagi ada Nina? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau Nina cerita ke semua orang kalau ia kalah lomba lari? Hancur dong semua imej-nya selama ini!

“Terus ini gimana?”

“Wika.” Tepukan di bahu  disertai sapaan lembut menyadarkan cewek itu.

Wika menoleh. Eilene tersenyum di sebelahnya.

“Yuk, masuk! Udah mau bel.”

“Ok”

“Udah makan?”

“Udah”

Mereka kembali ke kelas bersama.

 

saat istirahat keesokan harinya Wika nyeletuk,”Elin, gimana kalo aku ikut ekskul kamu aja?”

Eilene tersentak. Dia terdiam sebentar lalu berkata,”maaf, aku sedang ada tugas ekskul.”

cewek bergelombang itu meninggalkan Wika sendiri dalam kebingungan.

Sepulang sekolah baru Eilene memutuskan mengajak Wika berbicara di bangku taman sekolah.

“Jadi gimana? Kamu udah mutusin?” tanya Eilene.

“Belum”

“Kamu sebenarnya sudah tau kan apa yang harus kamu lakukan? ”

“Tapi …..”

“Apa kamu akan mengorbankan waktumu dan cita-cita mu demi itu?”

“Tahun depan kan masih bisa?”

“Beneran? Kamu mau seangkatan sama adik-adik kelas kamu? Kamu nggak malu? Kamu nanti tetap harus melakukan hal yang sama lo? Kamu cuma menunda hal yang sudah pasti. Apa kamu mau buang-buang waktu demi egomu itu?”

“Eilin…. Jangan paksa aku gitu dong!” Wika kesal dan frustasi.

“Maaf. Aku nggak bermaksud memaksamu. Aku cuma ingin mendukungkmu. Cuma itu.”

Eilene memutuskan diam sejenak  untuk memberikan ruang dan jeda bagi Wika untuk berpikir. Gadis itu cuma butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan kenyataan baru. Terutama saat kenyataan kadang tak seindah harapan.

“Kita beruntung sudah menemukan cita-cita kita dan jalan untuk mewujudkannya. Di tempat lain masih banyak anak-anak yang tersesat ke sana kemari karena cita-cita  yang berubah-ubah. Mereka selalu mengejar cita-cita yang salah. Bahkan lebih parah ada yang tak punya cita-cita. Mereka kayak robot, atau yang lebih buruk zombie. Berjalan ke sana kemari tanpa makna. Tanpa cita-cita. Tanpa tujuan hidup. Tanpa kesadaran.” Eilene mulai berbicara lagi.

“Aku tahu arah maksudmu.” Kata Wika.

“Bagus dong. Jadi lakukanlah!”

“Tapi …. tak semudah itu”

“Memang tak ada yang semudah dan sesempurna itu. Aku juga merasakannya. Menurutmu ekskul ku mudah? Aku harus jaga koperasi. Aku tak bisa kemana-mana. Sepulang sekolah aku harus membuat jurnal penjualan. Aku harus mencocokkan jumlah uang dengan catatan keuangan. Debit dan kredit harus sama. Tak boleh ada yang salah. Baik kurang maupun lebih. Bahkan aku harus menjaga agar jangan sampai ada yang hilang, kalau hilang itu tanggung jawabku. Aku harus mengganti rugi.”

“Tak mungkin!” ujar Wika.

“Begitulah. Kamu beruntung tak perlu ganti rugi apa-apa kalau hilang apa-apa.”

“Kenapa kamu masih mau disana?” tanya Wika.

“Itulah cinta. Cinta adalah kesetiaan. Cinta adalah pengorbanan. Kesetiaan dan pengorbanan itu yang membuat cinta berharga. Batasan itu yang membuat kita kuat. Dalam mengejar cita-cita dan sesuatu yang kita cintai, bisa saja kita kehilangan kenyamanan yang kita miliki. Tapi itu hanya sebagian. Sedangkan kehilangan cita-cita dan cinta itu adalah kehilangan segalanya. Kehilangan sebagian tentu lebih sedikit daripada kehilangan segalanya kan?”

Hati Wika luluh mendengar kata-kata itu.

Eilene melanjutkan kata-katanya,

“Satu hal lagi. Imej baikmu nggak apa-apa kalau hancur sebagian, asalkan kamu bisa melanjutkan perjuangan mu, terus bertahan dan bangkit lagi. Saat seperti itu imej baik kamu akan jadi lebih kuat, tidak hanya imej yang topeng sesaat.”

“Oh, Eilin! I love you.” Wika merangkul sahabatnya.

“Baiklah aku akan teruskan perjuanganku, aku akan bertahan di sana. Aku akan buktikan aku akan meraih cita-citaku.” Ujar Wika mantap.

“Baguslah. Semangat!” Eilene mengcungkan lengannya yang imut, keduanya tertawa.

Di hari dan jam latihan rutin PMR, Wika sudah hadir di lapangan upacara bersama anak-anak lain. Saat pemanasan ia menengok sekeliling Eiline berdiri di tepi lapangan sahabatnya itu mengacungkan jempol dengan senyuman lucu. Wika membalas jempol pula.

Setelah pemanasan persiapan lari. Sebelumnya Eilene sudah memberikan briefing kilat. Gadis itu meletakkan dua jarinya di antara kedua mata Wika. Wika memejamkan kedua mata.

“Jangan lihat masa lalumu! Lupakan semua itu. Lihat apa yang ada di depanmu! Bebaskan semua batasan. Kamu tak harus selalu menang. Cukup terus berlari itu yang akan membuatmu bertahan.”

Wika merenungkan kata-kata itu supaya meresap dan mengendap dalam hatinya.

 

“Mulai!” instruktur perempuan memberi aba-aba. Semua langkah terayun. Laki-laki melompat ke depan. Wika muncul bersama anak-anak perempuan.

“Hai, Wika. Aku akan menemanimu, kita teman sekelas kan? Lebih baik kita bersama” Nina muncul mendekati Wika.

“Jangan lihat masa lalumu!” ucap Wika bagaikan mantra. Bayangan masa kecilnya yang menghadang di depannya mulai retak.

“Lupakan semua itu!” kata kedua. Gambaran itu mulai mengabur.

“Lihat apa yang ada di depanmu!” mulai terlihat yang di depan adalah anak-anak SMP baru kelas 7 baru. Sosok-sosok yang berbeda.

“Bebaskan semua batasan!”

“Heaaa….” Wika mengerahkan seluruh kekuatannya. Pikirannya mengalir dari otak melalui jaringan syaraf, otot dan tulang memaksa lutut bergerak lebih cepat lagi. Sesaat lebih cepat.

“Eh…..” Nina terkejut dengan gerakan Wika. Gadis itu jadi lebih cepat meninggalkan dirinya. Wika terus berlari lebih cepat sehingga jarak dirinya dengan grup laki-laki mencapai setengah jarak laki-laki dan perempuan. Artinya dia lebih cepat dari anak-anak perempuan.

Tapi saat berputar karena harus melambat, jantungnya mulai terasa sakit dan ia mulai kehabisan napas. Napasnya terengah-engah, saat itu ia hanya bisa berlari dengan tenaga yang menurun drastis.

“Tak harus selalu menang. Terus berlari. Itu yang akan membuatmu bertahan!” Ucap Wika.

Dia berpapasan dengan anak-anak perempuan yang berlawanan.

Terus berlari hingga akhir. Wika mencapai garis finish dengan jarak 4/5 dari laki-laki. Dia masih di depan anak-anak perempuan. Nyaris dikalahkan.

“Haahh….hah….hah….” Wika masih terengah-engah.

“Nih minum!” Eilene menyodorkan teh gelas.

“Makasih”

Nina pun datang menghampiri, “Wah, Wika. Aku nggak nyangka kamu ternyata bisa berlari cepat juga. Latihan dari mana?”

“Nggak latihan kok. Cuma dukungan dari sahabat.” Jawab Wika.

Nina menoleh pada Eilene. Eilene tersenyum. Nina membalas senyuman pula.

“Ya sudah. Mari masuk.” Kata Nina.

“Oke”

Bersamaan instruksi senior semua anak-anak masuk kelas. Wika tersenyum pada Eilene melambaikan tangan. Eilene membalas dengan hal yang sama kemudian pergi. Karena ia mengikuti ekskul yang berbeda.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s